A. Pengertian Persiapan Mengajar
Kegiatan guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat menuntut kesabaran, ketekunan, kelincahan dan juga keterampilan pengetahuan dan pengalaman. Salah satu tugas guru yang berhubungan erat dengan tugas pokoknya sebagai pengajar adalah membuat persiapan mengajar, yaitu segala sesuatu yang disediakan guru dalam hubungannya dengan kegiatan interaksi belajar mengajar, baik yang dapat diamati maupun yang bersifat abstrak.
Sering didapati guru mengajar tanpa persiapan mengajar yang matang. Hal ini tampak pada penampilannya di depan kelas. Gejala-gejala yang tampak antara lain :
1. Pembicaraan guru berputar-putar, tidak jelas ujung pangkalnya.
2. Guru tampak gugup.
3. Keterangan-keterangan guru sulit dipahami murid.
4. Akibat gejala 1, 2 dan 3 kelas menjadi kacau, guru sering marah-marah dan tujuan pengajaran tidak dapat dicapai.
Agar hal-hal seperti itu tidak terjadi, maka supervisor harus membantu guru-guru dalam membuat persiapan mengajar sehingga guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan tujuan tersebut dapat direalisasikan.
B. Jenis-jenis Persiapan Mengajar
Seorang guru dalam menjalankan tugasnya terutama tugas mengajar hendaknya bukan hanya sekedar mengajar, tetapi hendaknya sebelum menghadapi murid harus mengadakan persiapan secara mantap.
Persiapan-persiapan yang seharusnya dipersiapkan guru dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu :
1. Persiapan lahir
Persiapan lahir adalah suatu persiapan yang bis dilihat. Persiapan jenis ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a) Persiapan tak tertulis
Persiapan tak tertulis adalah segala sesuatu diluar persiapan tertulis dalam rangka menyempurnakan persiapan tertulis.
Contoh :
1) Persiapan alat peraga
2) Mencari sumber-sumber pengajaran
3) Mempersiapkan alat pelajaran misalnya : kapur / spidol, penghapus, tape recorder dan lain-lain.
Dalam persiapan alat peraga, maka tugas supervisor adalah :
1) Menunjukkan darimana alat-alat tersebut dapat diperoleh, dengan meminjam, membeli atau membuat sendiri.
2) Memberi dorongan kepada guru agar bekerja lebih giat dalam mencari alat-alat tersebut.
3) Memberi dorongan kepada guru untuk kreatif dalam membuat alat peraga.
4) Membantu cara-cara memakai alat peraga sehingga benar-benar dapat membantu jalan pelajaran sehingga murid dapat menangkap pelajaran yang diberikan dengan bntuan alat peraga.
b). Persiapan tertulis
Persiapan tertulis adalah persiapan-persiapan yang harus dipersiapkan guru dalam bentuk tulisan
Suatu pekerjaan yang hendak kita lakukan harus kita rencanakan terlebih dahulu dengan seksama, supaya pada waktu mengerjakannya segalanya berjalan lancar. Inilah sebabnya seorang guru harus membuat persiapan pelajaran yang hendak diberikan. Persiapan itu harus dibuat tertulis supaya dapat diperiksa dan diperbaiki. Persiapan itu juga bisa sebagai alat control terhadap diri sendiri supaya dapat memperbaiki cara mengajarnya.
Waktu menyiapkan persiapan tertulis ini tidak boleh terlalu singkat sebab segalanya harus dipertimbangkan secara seksama mukai dari merumuskan tujuan pengajaran sampai dengan menyiapkan alat evaluasi.
“Model persiapan tertulis”
Sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku sekarang penyampaian materi pelajaran menggunakan system PPSI yaitu system prosedur pengembangan system intruksional. Model intruksional yang banyak digunakan adalah model satuan pelajaran (SP) yang disusun berdasarkan PPSI.
Dalam rangka pengembangan pengajaran diharapkan guru mampu mengajar dengan baik sehingga tujuan intruksional yang telah direncanakan dapat tercapai dengan baik pula. Salah satu system pencapaian yang efektif dan efisien adalah system penyampaian yang menggunakan model satuan pelajaran.
Satuan pelajaran ini merupakan rencana kegiatan belajar megajar dalam usaha membahas suatu satuan bahasan dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan intruksional.
Langkah-langkah pembuatan satuan pelajaran :
1) Merumuskan tujuan instruksional
2) Menentukan materi pelajaran
3) Menetukan metodealat dan sumber pelajaran
4) Evaluasi
Ditingkat SMA sebelum guru membuat satuan pelajaran, langkah langkah awal yang harus dilaksanakan guru sebagai dasar pembuatan satuan pelajaran adalah :
a. Membuat program semester, formatnya berisi : mata pelajaran, kelas, tahun ajaran, pokok bahasan, sub pokok bahasan, alokasi waktu, bulan dan minggu pelaksanaan.
b. Membuat rancangan global, berisi : identitas, jatah waktu, pokok bahasan, sub pokok bahasan, waktu, metode, langkah-langkah untuk intrakurikuler, dan penilaian.
2. Persiapan Batin
Persiapan batin yang dimaksud di sini adalah dengan persiapan mental. Persiapan mental ini penting artinya bagi guru, sebab hal ini sangat berpengaruh terhadap penampilan guru itu pada waktu memberikan pelajaran di depan siswa. Jika persiapan batin baik, maka ia akan memperlihatkan penampilan yang tenang, tidak ragu, dan menunjukkan sifat percaya diri, tidak kaku dan sebagainya. Sebaliknya, jika persiapan batin itu kurang, maka akan berakibat kurang baik dalam memberikan pelajaran di depan siswanya. Jika terjadi hal yang demikian, maka suoervisor harus memberikan bantuannya kepada guru yang mengalami kesulitan dalam persiapan batin.
Alasan-alasan yang dikemukakan adalah :
a. Guru mempunyai kecenderungan mengagumi atau menghargai supervisor sebab ia mempunyai sugestif di dalam pembentukan “The Emotional Adjusment to Teaching”.
b. Pergaulan supervisor lebih akrab dengan guru disbanding dengan murid.
c. Guru menyadari bahwa supervisor lebih banyak pengalaman.
Pembentukan “Emotional Adjusment to Teaching” dapat dilaksanakan terus-menerus, sejak guru tiba di sekolah sampai selanjutnya. Pembentukan “Emotional Adjusment to Teaching” dapat dilaksanakan sebagai berikut :
a. Tunjukkan suatu sikap bahwa kedatangan guru itu sungguh dinantikan dan diperlukan.
b. Selalu menghargai pekerjaan guru.
c. Memberikan saran-saran kepada guru atau dorongan positif sehingga guru merasa dihargai.
d. Jangan sekali-sekali menegur secara langsung pada waktu mengajar, tetapi harus ditunggu sampai waktu istirahat.
e. Jangan menunjukkan kekurangan guru di depan anak-anak.
f. Berikanlah pujian dan penghargaan terhadap guru yang berkreasi.
g. Bentuklah hubungan yang akrab, sehingga guru-guru tidak segan-segan untuk mengekspresikan pikirannya.
h. Perlihatkan kepada anak-anak bahwa guru itu sama dengan supervisor, sehingga jangan sampai menimbulkan kesan bahwa guru itu berada di bawah supervisor.
Senin, 15 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar