apakah anda menyenangi blog ini ?

Senin, 15 Maret 2010

PERGURUAN TINGGI DAN DUNIA KERJA



A. LATAR BELAKANG
Pendidikan tinggi memang masih diyakini sebagai jalan tol meraih masa depan gemilang di pasar kerja Indonesia yang sempit. Hingga awal 2007, negeri kita memiliki 10,9 juta penganggur, 20 persennya berijazah sarjana. Hasil riset pusat data dan analisa Tempo pada Januari di Jakarta dan sekitarnya mencatat ada 10 perguruan tinggi yang lulusannya dianggap favorit di pasar kerja. Hasil laporan tersebut menemukan, di luar sepuluh Universitas tersebut ada sederet lembaga pendidikan lain yang alumninya juga menjadi “primadona”.
Banyak orang menganggap lulus dari perguruan tinggi adalah modal utama untuk meraih kesuksesan. Jika ijazah sarjana sudah dalam genggaman, mencari pekerjaan adalah soal mudah. Itu sebabnya banyak orang rela membayar mahal biaya kuliah asalkan bisa jadi sarjana.
Benarkah anggapan itu? Ternyata tidak, menurut data Departeman Tenaga Kerja dan Transmigrasi, jumlah lulusan S1 yang menganggur terus bertamabah. Penganggur terbuka S1 jumlahnya mencapai 11%. Bahkan jika ditambah kategori setengah pengangguran angka itu melejit ke 37%. Angka pengangguran yang besar menunjukkan bahwa saat ini gelar sarjana bukanlah jaminan memperoleh perkerjaan dengan mudah.
Lapangan pekerjaan yang tersedia tampaknya tidak mampu menampung seluruh pencari kerja yang jumlahnya terus membludak. Situasi ini pada akhirnya menempatkan pencari kerja ke dalam posisi yang kurang menguntungkan, karena pihak perusahaan hanya bersedia merekrut tenaga-tenaga kerja yang handal dan professional. Di tengah posisi tawar yang semakin rendah, para sarjana harus menghadapi persaingan yang sangat ketat untuk memperebutkan posisi pekerjaan yang tersedia.
Lalu, apakah kompetesi akan berhenti sampai seseorang lulusan berhasil memperoleh pekerjaan saja? Tentu tidak. Lulusan yang baru saja duduk di kursi aman pertama. Dunia kerja selalu penuh persaingan. Bahkan, boleh dibilang kompetisi sebenarnya baru saja dimulai.

B. PERGURUAN TINGGI
1. Pengertian
Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen. Menurut jenisnya, perguruan tinggi dibagi menjadi dua:
a Perguruan tinggi negeri adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh negara.
b Perguruan tinggi swasta adalah perguruan tinggi yang pengelolaan dan regulasinya dilakukan oleh swasta.
Pengertian tentang perguruan tinggi atau universitas pada mulanya adalah kegiatan yang memiliki inti minimum penelitian atau pengembangan ilmu dengan tujuan mencari kebenaran dan mendidik pakar. Saat ini, pengertian perguruan tinggi telah berubah menjadi sebuah institusi yang mengajar mahasiswa menjadi orang yang berbudaya dan anggota masyarakat yang baik dalam keprofesiaannya (Gasset, 1966). Akhir-akhir ini terjadi perubahan penting proses transfer ilmu, yaitu dari pengajaran kepada pembelajaran. Dengan demikian peran profesional dosen dalam pengajaran maupun kompetensi keilmuannya menjadi sangat penting.
Suatu hal penting yang harus diperhatikan pula ialah globalisasi ekonomi, artinya akan berdampak pula bahwa seorang dosen harus mampu pula berperan secara global. Perlu dicermati bahwa pendidikan tinggi harus mampu membentuk masyarakat jujur dan cerdas (Santoso, 2005). Jika kita memperhatikan uraian tersebut, tampaknya universitas yang benar pengertiannya ialah perwujudan dari science center. Artinya, mendirikan universitas seharusnya berpikir mendirikan pusat ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena di universitas yang dikelola adalah ilmu pengetahuan.
Perguruan tinggi memiliki perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan sekolah dasar maupun menengah. Perguruan tinggi memiliki kewajiban untuk mengelola ilmu pengetahuan agar tetap berkelanjutan. Oleh karena itu komponen utama kegiatan perguruan tinggi ialah riset dan pendidikan (termasuk pengabdian kepada masyarakat).
Di Indonesia, perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, institut, politeknik, sekolah tinggi, dan universitas. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, dan vokasi dengan program pendidikan diploma (D1, D2, D3, D4), sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3), dan spesialis.
Pengelolaan dan regulasi perguruan tinggi di Indonesia dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Rektor Perguruan Tinggi Negeri merupakan pejabat eselon di bawah Menteri Pendidikan Nasional.
Selain itu juga terdapat perguruan tinggi yang dikelola oleh departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang umumnya merupakan perguruan tinggi kedinasan. Misalnya, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dikelola oleh Departemen Keuangan.

2. Tri Dharma Perguruan Tinggi
Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat indonesia. Dengan memperhatikan perkembangan dunia yang begitu pesat, maka pembentukan masyarakat Indonesia yang modernmenjadi tujuan utama dari pembangunan nasional Indonesia. Pembangunan masyarakat modern ini akan menyangkut perubahan-perubahan nilai-nilai Pancasila.
Manusia modern tersebut mempunyai ciri-ciri antara lain : lebih mudah meneriam dan menyesuaikan diri kepada perubahan-perubahan, lebih ahli dalam menyatakn pendapatnya, memiliki rasa tanggung jawab, lebih berorientasi ke masa depan, lebih mepunyai kesadaran mengenai waktu, organisasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan
Dalam kaitan pembentukan manusia modern itulah kita melihat betapa pentingnya peranan perguruan tinggi sebagai jenjang tertinggi dalam system pendidikan formal dinegara kita yang hendaknya dapat menghasilkan tenaga-tenaga ahli dan dapat pula mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perguruan tinggi mempunyai tiga fungsi utama yaitu :
1. Pendidikan dan pengajaran
2. Penelitian dan pengembangan
3. Pengabdian pada masyarakat
Ketiga fungsi tersebut lebih dikenal sebagi TRI DARMA PERGURUAN TINGGI yang harus dikembangkan secara simultan dan bersama-sama.
Penelitian harus menjunjung tinggi kedua dharma yang lain. Penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang diasilkan melalui proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagai hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya diterapkan melalui Pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.
Dengan memperhatikan uraian diatas , semakin jelaslah hubungan antara tri dharma tersebut.Tri Dharma Perguruan Tinggi ini sebenarnya menerapkan fungi perguruan tinggi yang Universal. Artinya bukan hanya di Indonesia saja. Tri Dharma perguruan tinggi juga terdapat di negara maju lainnya. Hanya saja dalam hal ini di Indonesia dinyatakn secara eksplisit,sehingga setiap warga negara khususnya warga perguruan tinggi akan senantiasa sadar akan tugasnya. Dengan demikian dalm menjalankan kegiatannya tidak menyimpang dari tugas yangf telah ditetapkan seperti tersebut diatas.
3. Paradigma Baru PT
Hidayat Banjar, dalam tulisannya “Kenapa Tenaga Terdidik Menganggur?” di Waspada Online, berpendapat, paradigma peserta didik (mahasiswa) serta stakeholders sudah saatnya diubah, bahwa kuliah bukan sekadar untuk mencari pekerjaan. Dunia kampus – khususnya jenjang S1 ke atas – sejatinya bertugas membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berilmu pengetahuan dan beriman (berwatak). Dengan ilmu pengetahuan dan iman yang dimilikinya, seyogianya para sarjana tidak akan menganggur. Sebab, dengan ilmu pengetahuan tersebut, seorang sarjana diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Ini mungkin berbeda dengan tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK), diploma I, II dan III, yang memang dibentuk untuk menjadi pekerja atau tenaga terampil di bidangnya. Maka itu, paradigma masyarakat dalam memandang lulusan PT pun harus diubah agar dunia pendidikan tidak terus-menerus terpolarisasi. Sudah saatnya pendidikan dibangun sesuai kebutuhan, bukan sesuai angan-angan.
Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) pendidikan dibagi ke dalam tiga kategori: informal, yaitu pendidikan di rumah tangga; formal merupakan pendidikan yang berjenjang dari SD hingga PT; sedangkan nonformal adalah pendidikan luar sekolah seperti life skill.
C. DUNIA KERJA
Dunia kerja adalah dunia dimana kita melakukan pekerjaan dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup, ada yang bekerja sebagai pegawai, guru, petani, pengusaha peternak dan banyak lainnya. Orang-orang berusaha untuk mendapatkan penghidupan yang layak pada saat memasuki dunia kerja sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Setiap orang tentunya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan yang diinginkan. Namun banyak pencari kerja yang tidak mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja yang amat berbeda dengan sewaktu mereka di bangku sekolah atau kuliah. Hal ini mengakibatkan pencari kerja tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan pada saat berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Bahkan, pada saat mereka telah lulus pun juga belum mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Agar sukses memasuki dunia kerja kita harus mempersiapkan terlebih dahulu apa-apa yang mesti mereka persiapkan.

Pekerjaaan apa yang saya inginkan? Pertanyaan ini yang pertama-tama harus kita pikirkan jauh-jauh hari bahkan ketika kita masih di bangku kuliah/sekolah. Hal ini amat penting agar kita dapat menata langkah-langkah berikutnya. Cita-cita yang kita sandang itu disesuaikan dengan kemampuan kita, baik daya intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang kita miliki, kemampuan ekonomi, dan kemampuan-kemampuan lain yang mendukung cita-cita tersebut. Atau, jika kemampuan atau persyaratan itu belum kita miliki, kita dapat menginstropeksi diri mampukah kita meraih kemampuan/persyaratan itu? Jika mampu, maka kita dapat melanjutkan cita-cita itu atau menjadikan hal itu sebagai cita-cita.
Tidak mustahil bahwa dalam perjalanannya kita mungkin mengubah cita-cita kita karena sesuatu hal. Jika anda ingin mengubah cita-cita tersebut, maka telitilah dengan seksama apakah cita-cita baru tersebut lebih memungkinkan kita raih? Cukupkah kemampuan kita? Apakah masih punya waktu untuk mempersiapkannya? Perubahan cita-cita juga dapat kita lakukan jika ketika kita hendak meraih cita-cita kita, ternyata terdapat hal utama yang tidak pernah kita pikirkan yang tidak dapat kita penuhi. Sebagai contoh, ada seorang yang bercita-cita ingin menjadi polisi. Ternyata pada saat tes fisik terdapat cacat kecil yang menjadi sebab utama ditolaknya dia masuk polisi. Cacat tersebut tidak dapat diperbaiki dengan cara apapun. Jika kasus ini menimpa anda, maka sebaiknya cita-cita diubah.
Dalam menentukan cita-cita, kita juga harus mempertimbangkan pasar kerja mana yang amat dibutuhkan oleh masyarakat. Adalah wajar jika sekarang ini banyak calon mahasiswa berbondong-bondong menjadi guru karena lapang kerjanya dibuka lebar-lebar oleh pemerintah serta jaminan hidup yang tampaknya lebih baik dengan adanya Undang-undang Guru dan Dosen.
Saat ini persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat karena terbatasnya peluang. Dibutuhkan kecermatan menentukan pilihan yang sesuai minat dan kemampuan kita. Selain itu butuh kesiapan dalam arti strategi untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. dan yang tak kalah penting adalah bagaimana menghadapi tantangan dunia kerja yang akan anda masuki.
Tujuan orang mencari kerja selain untuk aktualisasi diri dan potensi :
a Uang
b Relasi
c Berkembang
Akan lebih baik kalau kita menjadi tipe orang yang mencari kerja untuk tujuan yang ketiga. Dengan begitu menjalani pekerjaan akan terasa mengasyikkan., penuh semangat, kaya ide segar dan target kerja yang terus meningkat. pekerja yang mau berkembang adalah asset berharga untuk perusahaan.

Ada beberapa sumber bagi seseorang dalam mencari lowongan kerja dalam rangka memasuki dunia kerja,yaitu :
a Lowongan di surat kabar
Di surat kabar banyak sekali lowongan kerja di iklankan, namun tidak sepenuhnya perusahaan yang membutuhkan karyawan benar adanya. Sebagian besar yang membutuhkan karyawan dalam jumlah banyak dan posisi yang bermacam-macam adalah agency pencari kerja bukan perusahaan. Dan biasanya bagi yang melamar dikenakan biaya baik di awal maupun saat diterima bekerja. Jadi cermati benar iklan lowongan yang anda baca, jangan sampai kecewa melamar.
b Portal forum lowongan kerja
Pilih posisi kerja terbaik menurut keahlian dan pengalaman anda.hubungi perusahaan tersebut untuk meng-update lamaran. Jika posisi yang dilamar belum terisi baru kirimkan lamaran anda
c Rekomendasi teman
Tetap bersikap professional denagn mengirimkan lamaran seperti pada umumnya. Dan jangan menuntut atau berharap teman menggolkankan lamaran anda. Karena bagaimanapun teman hanya memberitahu bukan HRD yang mengurusi lamaran anda
Berikut adalah beberapa tips bagi lulusan yang sedang mencari pekerjaan untuk memasuki dunia kerja, atau sedang proses seleksi diperusahaan:
a Persiapan pengetahuan
Jangan “bereskan” buku-buku kuliah
Terkadang jadi pengangguran bikin seseorang jadi malas-malasan, padahal setiap kali interview sudah sampai ke level technical interview / user interview, pertanyaan interviewer akan menjadi semakin teknis. Buku kuliah terutama yang berkaitan dengan bidang yang kita lamar lebih baik jangan di masukkan dulu dalam kardus..

Ingat-ingat skripsi
Hampir dipastikan setiap interview yang dilakukan ke freshgraduate, si interviewer akan bertanya “ceritakan tentang skripsi kamu”. Kenapa? Karena hal ini akan menggali banyak hal, mulai dari kemampuan logika, analisa masalah, problem solving, team work, ketahanan menghadapi tekanan.

Perdalam skill yang dibutuhkan
Di era persaingan yang semakin ketat seperti sekarang, jangan cuma mengandalkan yang kita terima dari bangku kuliah. Perdalam skill, baik skill umum misalnya bahasa inggris, atau skill khusus (psikotest buat calon staff recruitment, bahasa pemrograman kalau ingin jadi programmer, kursus brevet buat calon staf accounting dan lainnya). Usahakan jangan cuma di teori saja, tapi belajar buat mempraktekkan skil.

b Persiapan mental
Percaya diri
Percaya diri merupakan awal dari kesuksesan. Percaya diri dalam menuliskan kemampuan di cv, percaya diri ketika menghadapi interview, dan percaya diri dalam menilai kemampuan diri sendiri. Dengan begitu, orang juga akan menilai bahwa kita mampu untuk memegang pekerjaan baru, meskipun lulusan baru.

Pahami kelebihan dan kekurangan diri
Tonjolkan kelebihan yang kita punya untuk menambah nilai plus kita dimata para pencari kerja. Kekurangan? Setiap manusia punya kekurangan, jadi tidak perlu malu mengingkari kekurangan yang kita punya. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengetahui persis kekurangan kita, dan bagaimana kita berusaha untuk memperbaiki kekurangan kita itu.

D. HUBUNGAN PERGURUAN TINGGI DENGAN DUNIA KERJA
Kualitas perguruan tinggi dalam melahirkan sarjana/diploma terus dipertanyakan. Lulusannya dianggap tidak mampu menjawab kebutuhan pasar. Bagaimana mengatasi kesenjangan ini? Fakta mengenai lonjakan pengangguran terdidik saat ini makin memprihatinkan, bila tidak mau disebut menyedihkan. Lihat saja, jumlah sarjana menganggur melonjak drastis dari 183.629 orang pada 2006 menjadi 409.890 orang di 2007. Ditambah dengan pemegang gelar diploma I, II dan III, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2007 menyebutkan, lulusan yang menganggur sudah mencapai 740.206 orang.
Dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan 2008 yang diadakan awal Februari lalu, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, mengatakan, tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi (PT) saat ini disebabkan berbagai faktor. Antara lain, kompetensi keahlian tidak sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, lulusan program studi sudah jenuh di masyarakat, atau tidak memiliki keahlian apa pun untuk bersaing di dunia kerja. “Hasil penelitian yang dilakukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Dikti menunjukkan, mereka yang tidak bisa bersaing di dunia kerja umumnya lulusan program studi ilmu-ilmu sosial.
Sedangkan lulusan fakultas teknik banyak dibutuhkan. Tetapi, kompetensi keahlian lulusan fakultas teknik ini masih kurang,” ujar Fasli seperti dikutip oleh Suara Karya Online.
Berdasarkan hal tersebut, Ditjen Dikti akan merevitalisasi program studi di PT yang mencakup, antara lain: penghapusan sejumlah program studi yang sudah jenuh di masyarakat dan sepi peminat. “Buat apa tetap mempertahankan program studi yang hanya menghasilkan pengangguran,” katanya seraya menambahkan, yang sudah jenuh antara lain program ilmu sosial, ilmu politik, dan ilmu ekonomi.
Diakuinya, penyelenggaraan pendidikan di PT mengalami semacam dilema, yaitu antara memenuhi permintaan pasar atau bertahan menggelar proses pendidikan tinggi yang ideal. Permintaan pasar dipenuhi oleh PT yang membuka program studi yang laku di pasar tenaga kerja. Untuk saat ini, program studi yang banyak dibutuhkan dunia kerja adalah manajemen informatika, teknologi informasi dan komunikasi, juga penyiaran. Karena itu, PT berlomba-lomba membuka jurusan atau program studi tersebut. Namun, terkadang PT mengabaikan aspek kompetensi. Misalnya, sebuah PT berani membuka program studi teknologi informasi, padahal mereka tidak mempunyai tenaga ahli tetap untuk bidang tersebut. Ini banyak terjadi di berbagai perguruan tinggi. Hasilnya, lulusan program studi itu tidak memiliki bekal ilmu yang cukup sehingga menjadi sarjana yang tidak berkualitas.
Berorientasi Bisnis
Menurut Fasli, alasan utama PT melakukan jalan pintas seperti itu adalah demi bertahan hidup dan memperluas bisnis. Maklum, PT sekarang mempunyai paradigma sebagai unit bisnis yang harus menghasilkan keuntungan (profit oriented). Tak mengherankan bila orientasi mereka semata-mata hanya menghasilkan keuntungan lewat jumlah mahasiswa yang banyak. “Mereka berbuat demikian karena dituntut mandiri dalam memenuhi kebutuhan operasional. Karena tuntutan itu seringkali mereka mengabaikan kualitas,” ia menuturkan.
Senada dengan Fasli, mantan Dirut Bank Mandiri Robby Djohan, pun melihat, salah satu sebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah, karena PT dianggap sebagai bisnis yang menghasilkan keuntungan besar. Selain itu, dalam bukunya “Leaders and Social Capital. Lead to Togethernes”, Robby berpendapat, banyak dosen yang sebetulnya tidak memenuhi syarat untuk mengajar. Sebagian besar dosen mengajar sebagai pekerjaan sampingan saja. “Mereka lebih sibuk mencari berbagai proyek untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tulisnya. Masalah lain, PT kurang melaksanakan tugasnya sebagai research center and development. Tak mengherankan bila kurikulumnya kurang sesuai dengan perkembangan dunia usaha.
Berkaitan dengan tugas PT sebagai research center, Fasli menceritakan, di negara-negara maju PT dan industri mempunyai hubungan saling membutuhkan. Salah satunya, riset-riset di PT dibiayai perusahaan karena hasilnya akan dimanfaatkan kembali oleh perusahaan. Setiap kali ada peluncuran produk baru di perusahaan, itu pasti berdasarkan riset dari PT. “Maka itu, di negara maju kurikulum perguruan tinggi tidak pernah ketinggalan oleh perkembangan industri. Di Indonesia, kepercayaan industri terhadap perguruan tinggi dalam menghasilkan penelitian berkualitas belum ada, sehingga seolah-olah selalu ada jarak antara perguruan tinggi dan dunia industri,” paparnya.
Memang, tidak adil bila membandingkan PT di Indonesia dengan di negara-negara maju. Misalnya, Fasli mencontohkan Cornell University memiliki dana abadi sebesar US$ 20 miliar. Dengan demikian, “Wajar saja jika perguruan tinggi di negara-negara maju menghasilkan lulusan yang mumpuni karena bukan saja memiliki dosen berkualitas, tetapi juga fasilitas pendidikan yang lengkap. Tetapi inilah tantangan bagi kita. Bagaimana caranya menghasilkan lulusan berkualitas dengan dana terbatas,” katanya optimistis.
Melihat fakta ini, semestinya lembaga-lembaga pendidikan punya tanggung jawab moral terhadap lulusannya. Artinya, setelah mahasiswa tamat dari pendidikan akankah dibiarkan begitu saja? Semestinya, dunia pendidikan jangan sampai jadi “pabrik” tenaga pengangguran terdidik. Jalannya tentu saja membangun mentalitas entrepreneur dan kecakapan hidup (life skill), sehingga tamatan PT bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan menciptakan lapangan pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar